Hamparan jagung hibrida dan varietas unggul hasil Litbang Pertanian, di antaranya Nasa 29 dan JH 37 di lahan seluas 5 hektar di area Taman Sains Pertanian Lahan Rawa milik Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan nampak menghijau dan sebagian mulai mengering menandakan sudah siap dipanen.

“Tanaman jagung ini sudah berumur lebih kurang 115 hari yang ditanam di awal bulan November 2019 dan sekarang sudah siap panen di awal Maret 2020,” ucap Dr Mawardi, SP.MSc, Peneliti di Balittra, Kamis.

Dia mengungkapkan, jagung yang siap panen itu merupakan hasil penanaman di musim hujan yang menjadi istimewa lantaran lahan rawa lebak di musim hujan penuh dengan air, dan yang bisa ditanami hanya lebak dangkal. Sedangkan lebak tengahan dan dalam sama sekali tidak bisa ditanami.

Namun dengan sentuhan teknologi, Balittra bisa mengelola lahan rawa lebak dangkal menjadi lahan yang potensial untuk ditanami jagung.

“Belum pernah kita bayangkan sebelumnya bisa betanam jagung di lahan rawa lebak di musim hujan dan bisa panen dengan hasil yang sangat baik kualitas maupun kuantitasnya. Dulu lahan rawa lebak hanya bisa ditanami padi” tutur Mawardi.

https://img.antaranews.com/cache/730x487/2020/03/06/IMG-20200305-WA0019.jpg

Menurut dia, bertanam jagung tanpa mengenal musim itu berkat teknologi yang dimiliki Balitrra dengan sistem penataan lahan yang baik, sehingga satu tahun bisa bertanam jagung 3 kali (IP 300) bahkan 4 kali (IP 400) di Taman Sains Pertanian Lahan Rawa yang dikelola tersebut.

Jika keuntungan 1 hektar Rp10 juta, maka jika bisa tanam tiga kali setahun akan dapat menghasilkan uang Rp30 juta perhektar pertahun.

Selain penataan lahan, untuk  meningkatkan produksi, mempercepat dan mengurangi biaya dalam budidaya jagung tersebut, Balittra menggunakan berbagai teknologi.

Di antaranya sistem tanam zig-zag dengan jarak tanam 70×12,5 cm untuk memperbayak populasi jagung per hektarnya dan penggunan pupuk berimbang yaitu dengan pospat alam 1 ton perhektar dan pupuk kandang, sehingga produksi meningkat.

Sedangkan untuk menghemat biaya dan mempercepat pekerjaan, Balittra menggunakan mekanisasi mulai dari pengolahan tanah sampai panen.

Untuk pengolahan tanah misalnya, satu hari bisa 2 hektar. Begitu juga pada saat tanam jika menggunakan orang, 1 hektar memerlukan 10 orang 4-5 hari kerja. Namun jika menggunakan alat tanam 1 hektar cukup 2 orang hanya 1 hari kerja.

“Sementara proses panen pun 1 hektar bisa diselesaikan 1 orang dalam 1 hari, sehingga dapat menghemat biaya 60-70 %. Dengan demikian jika diterapkan ke petani akan meningkatkan pendapatan petani secara signifikan,” jelas alumni S3 Ilmu Tanah/Hidrologi Rawa Universitas Gadjah Mada itu.

Tanam jagung di musim kemarau

Setelah memberikan contoh keberhasilan tanam jagung di musim hujan, selanjutnya Balittra pada Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian bersiap melakukan tanam kembali untuk musim kemarau di bulan April 2020 nanti.

Musim kemarau biasanya menjadi musim yang menakutkan bagi para petani di lahan kering. Namun, bagi petani di lahan rawa, kemarau malah menjadi berkah luar biasa karena produksi dapat berlipat.

“Kemarau saat yang tepat buat tanam jagung,” kata Acep, petani inkubator bisnis binaan Balittra.

Menurut Acep, jagung yang ditanam saat musim kemarau kualitasnya lebih tinggi dari musim hujan. “Tongkol buah besar-besar dan merata. Dengan teknologi tepat, budidaya jagung saat kemarau dapat menghasilkan 0,5 Kg/pohon,” ungkapnya.

Populasi pada 1 hektar jagung mencapai 40.000 tanaman, sehingga dapat dipanen 20 ton jagung per hektar.

https://img.antaranews.com/cache/730x487/2020/03/06/IMG_20200305_210449.jpg

Menurut Kepala Balittra Hendri Sosiawan, pada musim kemarau matahari bersinar penuh selama 12 jam, sehingga energi cahaya matahari maksimal.

“Jagung butuh banyak energi matahari untuk pengisian bijinya,” jelasnya.

Sedangkan air sebagai faktor pembatas saat kemarau dapat diatasi dengan teknologi.

“Kita gunakan air dari sungai yang dipompa, kemudian disemprot dengan big gun. Air di sungai masih tersedia walau kemarau karena di sini tergolong rawa-rawa,” timpalnya.

Dengan cara itu air tersebar merata seperti air hujan dengan jangkauan sangat luas tanpa merontokkan kembang jagung. Dampaknya jagung mampu berproduksi maksimal.

“Kalau sudah begini, biasanya banyak jagung berbuah dua tongkol dan besar. Satu pohon menghasilkan rata-rata 0,5 Kg lebih tongkol jagung yang sudah dikupas klobotnya,” beber Hendri.

Lebih jauh Kepala Balittra ini menjelaskan, secara teoritis umumnya air menjadi faktor pembatas yang utama di musim kemarau. Menurut hukum “minimum leibig” atau faktor pembatas, jika semua faktor dapat terpenuhi maka kenaikan hasil dibatasi oleh elemen faktor yang terendah. Faktor pembatas ini dapat diatasi di lahan rawa yang kemudian dijadikan peluang oleh Baliitra.

Keuntungan lain panen di musim kemarau adalah harga jagung sangat  tinggi. Jagung pipilan kering mencapai  Rp3.800/Kg sampai Rp4.000/Kg. Biasanya hanya berkisar Rp2.800/Kg pipilan kering.

Demikian pula jagung tongkolan Rp2.300-Rp2.500/Kg, normalnya Rp1.800-Rp2.000/Kg. Artinya petani bisa untung 2 kali karena hasil maksimal dan harga jual yang tinggi.

“Balittra dengan berbagai teknologi dan rekomendasi terus berupaya menyebarkan kabar gembira ini agar petani jagung sejahtera,” pungkas Hendri mengakhiri.

Untuk musim hujan yang masih berlangsung sekarang, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi akan turun hujan sampai akhir Maret 2020.

Selanjutnya di kisaran April-Mei, sudah memasuki musim kemarau, dimana ada transisi yang kerap disebut musim pancaroba.

BMKG memprediksikan musim kemarau 2020 di Indonesia akan memasuki puncak musim kemarau pada Juli-Agustus 2020 mendatang.